Donderdag 16 Mei 2013

KONSELING KELUARGA

DINAMIKA KELUARGA
  1. A.      Pengertian
Dinamika keluarga adalah suatu interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarga dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya. Keluarga di harapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien.
Dinamika keluarga juga merupakan interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok sosial yang sama.[1]
Keluarga tak ubahnya seperti negara. Ada pimpinan, menteri, rakyat, kebijakan, dan aturan. Layaknya negara, dinamika politik keluarga pun mesti dinamis. Karena dengan begitulah, keluarga menjadi hidup, hangat, dan produktif.
Indahnya hidup berkeluarga. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai masalah pendidikan, hubungan sosial antar anggota keluarga, ekonomi, pertahanan, komunikasi, organisasi, dan politik. Mungkin, itulah sebabnya, orang yang sukses dalam berkeluarga, insya Allah, akan sukses berkiprah di masyarakat. Bahkan, negara dan dunia.
  1. B.       Aspek-Aspek Dinamika keluarga
  2. Tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiriyang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
  3. Tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi.
  4. Tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana mereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai system nilai keluarga.
  5. Tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.
Cuma masalahnya, tidak semua pimpinan keluarga peka dengan dinamika yang ada. Kadang juga terlalu tegang menyikapi kesenjangan antara idealita dengan realita. Ketidakpekaan dan ketegangan inilah yang kerap membuat dinamika keluarga menjadi redup. Para anggota menjadi ikut kikuk, bungkam, dan takut.
Jadi, dinamika dalam keluarga adalah hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Yang diperlukan adalah sekali lagi rasa tenggang rasa, rendah diri menerima masukan dan kemauan untuk berubah dalam masing-masing.
Kebersamaan pada akhirnya adalah kebutuhan. “Keluarga” kita yang lain entah di organisasi entah di komunitas atau di tempat manapun selain keluarga asli kita adalah kebutuhan. Karena menyendiri bukan jawaban untuk keamanan, karena pagar sosial bagaimanapun lebih kokoh dari pagar beton. Menyendiri juga bukan jawaban untuk ketenangan, karena rasa tak paralel dengan suasana.[2]

MODEL-MODEL KONSELING KELUARGA
  1. A.      Pengertian Konseling Keluarga
Sebelum kepada model-model konseling keluarga maka berikut ini akan dikemukakan defini konseling keluarga.
“Family therapy is an interactive proces which seeks to aid the family in regaining a homeostatic balance with which all the members are confortable in pursuing this objective the family therapist operates under certain basic assumptions”.[3]
Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam memcapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan. Untuk mencapai hal tersebut ini dikemukakan asumsi-asumsi dasar yang dapat menunjang pencapaian tujuan.
Konseling keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.[4]
  1. B.       Model-Model Konseling Keluarga
  2. Salah satu model konseling keluarga adalah terapi keluarga atau family therapy.
Terapi ini mulai dikembangkan sejak tahun 1950. Terapi keluarga merupakan suatu metode yang menggunakan pendekatan struktural dalam menanggani masalah keluarga. Titik tolak dari pendekatan ini ialah pendapat bahwa keluarga merupakan suatu sistem sosialterkecil. Jadi, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah-masalah yang mengganggu keseimbangan dirinya atau penampilan tingkah lakunya maka seluruh keluarga yang lain akan juga mengikuti gangguan atau goncangan itu.[5]
  1. Diagnosis dan konseling oleh Ackerman (Ackerman’s Family Diagnosis and Counseling).
Nothan W. Ackerman,seorang psikiatri di New York yang secara professional telah mengembangkan dan menyebarluaskan konseling keluarga dengan menekankan interdipendensi antara prosedur diagnosis dan penanganan (treatment).
Ia menjelaskan putusan diagnotis menentukan kejelasan penentuan tujuan konseling dan kekhususan tekhnik yang digunakan dalam konseling keluarga serat interview terhadap keluarga menjadi komponen essential dalam sistem diagnosis dalam konseling keluarga.
Untuk mencapai tujuan, seorang konselor keluarga spesifik sebagai berikut:
  1. Membantu keluarga mencapai kejelasan pembatasan konflik.
  2. Mendudukkan konflik pada tempat yang sebenarnya.
  3. Meluruskan prasangka-prasangka rasional yang tercakup dalam konflik dengan cara:
1)        Membebaskan beban yang terlalu banyak pada seseorang sebagai anggota dalam satu keluarga.
2)        Membebaskan beban kesedihan karena konflik dalam keluarga, di mana seharusnyadapat saling berhubungan dengan efektif.
3)        Mengaktifkan masuknya unsur emosi yang baik ke dalam hubungan antar anggota keluarga.
  1. Konseling keluarga secara bersama-sama oleh Safir (Safir’s Conjoint Family Counseling).
Virgina Safir sebagai seorang ahli terapi, mempunyai ciri seorang yang suka langsung, penuh semangat, otoriter dalam pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga. Selama mengadakan pertemuan dengan keluarga, Safir memmbuat pertanyaan lebih banyak daripada anggota keluarga. Tujuannya adalah untuk mengembangkan interaksi antar anggota keluarga. Dia melakukan semua hal ini dengan komunikasi verbal yang sangat baik dan dengan dirinya sendiri sebagai pusatnya.
Dalam pelaksanaan konseling, Safir menuntut suami dan istri sama-sama hadir dalam wawancara pertama, ia menekankan pentingnya kebutuhan laki-laki dan perempuan dalam rangka memperoleh informasi tentang masalah keluarga. Dalam wawancara pertama, Safir mengajukan pertanyaan untuk mengetahui apa yang diinginkan keluarga tersebut dan apa yang diharapkan dari konseling dan kemudian secara mendalam mengetahui keadaan atau sifat keluarga yang diberikan bantuan. selanjutnyaSafir menjelaskan bahwa tiap keluarga memberikan kontribusi yang tidak sama dengan keluarga lainnya dan terhadap kesulitannya. Hal inilah yang perlu dimengerti oleh konselor sebelum memberikan bantuan.
Dalam membantu keluarga agar hubungannya lebih efektif, Safir menempuh dua jalan,anatar membantu orang tua untuk mengerti anaknya dan penerimaan timbal balik antar mereka sendiri.
  1. Konseling keluarga berdasarkan Triad (Triad’s Based Family Counseling)
Grald H. Zuk seorang ahli psikoterapi dari Philadelphia mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara tiga atau lebih dalam keluarganya, yang menurut anggapannya lebih baik daripada berdasarkan yang banyak dilakukan oleh ahli psikoanalisis. Zuk menekankan bahwa triad itu dipakai sebagai perbaikan dari model dyad, yaitu terapi keluarga berdasarkan hubungan tiga orang dalam keluarga:
  1. Antara anak – ibu – anak
  2. Antara anak – ayah – anak
  3. Antara ayah – ibu – anak
Karena kesulitan dan permasalahan keluarga tersebuit kemungkinan harus melibatkan dua atau lebih anggota keluarga yang saling bertentangan. Dalam mengatasi pertentangan keluarga, seorang terapis diharapkan mampu berperan sebagai penengah dan pelerai.
  1. Konseling kelompok keluarga oleh Bell (Bell’s Family Group Counseling)
Jhon Elderkin Bell, seorang ahli psikoterapi dari California. Dalam konselingnya memfungsikan pentingnya hubungan dalam keluarga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sebagai suatu kelompok. Menurut Bell tugas yang harus segera dilakukan adalah membantu memperluas dan memperbaiki hubungan antar anggota keluarga. Peningkatan komunikasi keluarga sebagai cara yang paling baik untuk pemecahan masalah keluarga. Bell mengajarkan kepada keluarga untuk:
  1. Sifat yang lebih fleksibel.
  2. Lebih terbuka.
  3. Langsung.
  4. Jelas.
  5. Lebih disiplin dalam memilih dan membentuk hubungan.
  6. Konseling tingkah laku keluarga oleh Liberman (Behavior Counseling)
R. Paul Liberman, seorang ahli psikiater dari California telah menerapkan teori-teori dan prosedur konseling tingkah laku dalam keluarga. Menurutnya tugas terapis adalah:
  1. Menyebutkan secara panjang lebar mengenai tingkah laku penyesuaian yang buruk (maladaptive behavior).
  2. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akaldari beberapa alternatif, tingkah laku yang sesuai (adaptive behavior).
  3. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak sesuai dengan tingkah laku yang sesuai.
Dalam penerapan teori tingkah laku ke dalam konseling keluarga, Liberman menekankan pada tiga hal pokok:
  1. Menciptakan dan memelihara konselingyang positif dengan jalan menggunakan penguatan sosial dan model.
  2. Mendiagnosis problem-problem keluarga ke dalam istilah tingkah laku.
  3. Mengimplementasikan prinsip-prinsip tingkah laku dari penguat dan model (contoh) dalam hubungan interpersonal.
  4. Liberman membedakan beberapa tingkah laku konselor yang cendrung mengecilkan pentingnya hubungan antar konselor dan klien. Bahkan ada beberapa kritik bahwa konseling tingkah laku cendrung menggunakan pendekatan mengajar secara mesin (teaching machine) terhadap perubahan kepribadian.
Dalam membuat penialaian tingkah laku, Liberman menanyakan kepada tiap-tiap anggota keluarga berturut-turut apakah dia senang melihat perubahan-perubahan dari keluarga lain dan apakah dia menyukai dibedakannya dengan dirinya serta perbedaan apa yang dikehendaki di lihat pada keluarga lain. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu digunakan sebagai pedoman, sehingga dia dapat membuat pilihan yang seksama terhadap tujuan tingkah laku yang spesifik. Analisis tingkah laku belum selesai sesudah pertemuan pertama, tetapi harus dilakukan secara rutin sampai problem tingkah laku mereka berubah.
Liberman menggunakan model atau permainan peranan dalam melakukan penyembuhan. Model itu dapat dalam satu dari konselor, atau anggota keluarga. Jika model menujukkan tingkah laku yang diinginkan berarti bantuan yang diterima positif dan mungkin klien akan menirunya.
Dalam konseling tingkah laku mengutamakan pula adanya kesepakatan antara pribadi, antara konselor dan anggota keluarga untuk mengubah problem tingkah laku yang lebih sesuai. Liberman mengatakan bahwa pendekatan tingkah laku pada konseling keluarga memerlukan keuletan tenaga dari konselor, berlainan dengan pendekatan psikoanalisis.
  1. Konseling dampak ganda oleh Gregor (multiple impact counseling)
Robert Ma Gregor seorang ahli psikologi, mengembangkan suatu metode untuk menangani keluarga dengan melihat gangguan dan krisis pada masa remajanya. Metode itu disebut multiple impact counseling yang sering disingkat dengan MIC.
MIC melibatkan orang-orang yang ada hubungannya dengan keluarga tersebut, misalnya saudara, tetangga, teman, dan lain-lain. Konselor pun terdiri dari bermacam-macam ahli, yaitu ahli psikologi, psikiater, pekerja sosial, dokter dan lain-lain.
MIC mencoba menolong klien dan keluarga melalui proses alamiah menuju keperbaiakan fungsi. Pelaksanaan konseling dengan cara pertemuan (conference) antara konselor, klien dan keluarganya dan orang-orang lain seperti tersebut di atas. Dalam pertemuan terjadi wawancara dan diskusi antara konselor dengan klien dan keluarganya.
MIC dilaksanakan selama dua setengah hari dan sering selama dua hari saja MIC telah selesai. Pertemuan, wawancara dan diskusi dilakukan pada pagi dan sore hari secara terus menerus selam dua hari itu.
  1. Campur tangan jaringan social oleh Speck (social network intervention)
Ross V. Speck seorang psikiater, dengan teman-temanya telah mengembangkan konseling keluarga. Dalam campur tangan jaringan sosial ini Speck dan teman-temanya melibatkan seluruh saudara, teman-teman. Tetangga dari keluarga yang bermasalah yang kelihatannya mempunyai pengaruh yang berarti bagi keluarga itu. Caranya dengan mengadakan pertemuan di rumah keluarga tersebut, dan melibatkan kira-kira 40 orang. Tempat pertemuan dapat juga diadakan di rumah salah satu keluarga. Salah seorang dari mereka dapat juga diadakan dipilih menjadi pimpinan jaringan sosial tersebut. Seorang pimpinan dibutuhkan perasaan peka terhadap waktu, empati, perasaan akan suasana hati kelompok dan mempunyai kharisma. Dia juga harus mempunyai kecakapan untuk memberikan kepercayaan, bertanggung jawab dan memberikan penyelesaian yang baik terhadap anggota jaringan.
Anggota jaringan mendapatkan perasaan kesatuan dan pikiran yang menyenangkan seperti halnya tim pemain sepak bola,mereka dapat melepasakan ketegangan dengan berlari, meloncat dan berteriak. Bagi yang mengalami krisismendapat pusat perhatian dan untuk penyelesaiannya dilakukan secara terpisah.
Sebelum diskusi jaringan dengan keluarga, informasi yang pokok dikumpulkan untuk melengkapi konstruksi dari strategi jaringan pada pertemuan pertama. Sebelum sidang, prosedur yang biasanya dilakukan adalah konselor memasang tape recorder, mengumpulkan pendapat anggota keluarga, mendengarkan desas-desus dan biasanya didapat informasi tentang kelompok. Dalam hal ini biasanya konselor bertindak sebagai pembantu dengan dua atau empat orang berprofesi sebagai penasehat tersebut dalam latihan sebagai konselor jaringan, tetapi juga berprofesi sebagai pelopor. Kepercayaan tercipta selam hubungan akrab satu persatu dengan konselor selam sidang, mungkin setelah itu tidak ada hubungan lagi. Karena iotu dipesankan oleh konselor untuk membentuk jaringa komuniksi secara tetap. Dalam jaringan ini timbul perasaan baru dari para anggota dan sadar akan rasa kebersamaan.
  1. Konseling keluarga ganda oleh Laqueur (multiple family counseling)
H. Peter Laquer adalah seorang psikiater, ia menciptakan multiple family counseling. Ia mengatakan bahwa konseling yang demikian telah berkembang menjadi kebutuhan karena ia melihat sejumlah ketidak efisienan konselor dalm mengobati krisis keluarga di rumah sakit-rumah sakit pemerintah tempat ia bekerja. Laquer dan kelompoknya mulai melakukan terapi ini pada klien-klien di rumah sakit dan keluarganya.
Dari apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh Laquer dan teman-temanya, maka ada kepercayaan bahwa konselor keluarga ganda dapat memberikan perubahan dala pola-pola interaksi secara lebih cepat dan lebih efektif dari pada yang biasa dilakukan dengan penanganan tunggal pada keluarga.

Terutama ketika ada anggota yang mengidap penyakit schizophrenia, konseling keluarga ganda dapat memberikan hasil yang lebih baik dari pada konseling tunggal kepada keluarga. Laquer percaya, karena hadirnya keluarga lain dan klien lain akan mendorong orang yang terserang schizophrenia untukdengan lebih aktif berusaha mengenali perbedaan diri dan kebebasannya dari pada terus menerus bertahan dalam hubungan simbiotik kepada keluarganya yang teritama menimbulkan sakitnya itu.
Laquer juga berbicara tentang jenis komunikasi yang sesuai untuk setiap jenis keluarga dan bahasa untuk orang yang terkena schizophrenia. Di menemukan keluarga lain yang dapat dugunakan sebagai perantara antara konselor dan keluarga itu, dan antara konselor dan orang yang terkena schizophrenia serta sering juga untuk menjernihkan hubungan antara klien itu dengan keluarganya.
Setelah memperkenalkan konseling keluarga ganda di New York Hospital, Laquer pindah ke Vermont. Di sana dia terus mempraktekkan konseling tersebut. Ketika ia melakukan serentak untuk empat atau lima keluarga, dari prakteknya sendiri atau dari rumah sakit dan klinik kesehatan mentalnya, dia menjelaskan bahwa problem mereka akan digabungkan. Tetapi tiap-tiap keluarga harus merasa bebas apakah akan ikut bersama-sama mengadakan pembicaraan lagi ataukah tidak setelah pertemuan pertama. Setiap keluarga akan ditangani hanya jika tiap anggota keluarga memerlukan bantuan.
Keluarga-keluarga itu bercampur dalam pendidikan dan latar belakang sosial ekonominya. Laquer percaya bahwa dalam campuran yang acak itu, orang dari latar belakang serupa akan cendrung untuk berinteraksi secara dangkal. Lain dengan misalnya seorang anak sopir dengan seorang anak profesor. Menurut laquer dapat membuat orang tua mereka masing-masing terlibat pembicaraan yang lebih efisien, dibanding dengan dari orang tua yang berlatar belakang sejenis.
Keluarga yang tidak meninggalkan pertemuan pertama, biasanya suka untuk mengikuti penangan selanjutnya. Waktu yang diperlukan untuk jenis konseling ini adalah sekitar 12 sampai 18 bulan. Laquer melaporkan bahwa kebanyakan keluarga itu semula tidak mengetahui mengapa mereka harus berada dalam kelompok itu dan bagaimana dapat dibantu untuk membicarakan problem mereka dihadapan keluarga lain dengan problemnya sendiri-sendiri pula. Kemuadian baru mendapatkan pengertian dari pihak keluarga lain dan mendapat dukungan emosional dalam kelompok itu, sehingga mengurangi rasa sakit daro problem yang dirasakan. Akhirnya baru dapat menghadapai dengan tenang bahwa mereka memang telahmenyebabkan adanya problem itu.
Laquer telah menyebutkan satu persatu meklanisme perubahan yang dia yakini dala konseling keluarga ganda ini, yaitu:
  1. Konseling keluarga ganda menggunakan keluarga yang agar tidak terganggu secara co-counselor (konselor pembantu). Karena semua keluarga dala kelompok itu umumnya memiliki sebuah problem, maka konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada mereka dalam kerangka kerja tersebutuntuk mengadakan komunikasi dan memperoleh pengertian yang lebih baik. Dengan keadaan demikian satu keluarga dengan senang hati dapat menerima keluarga yang lain dan keluarga yang lain itu dapat berperan sebagai co-counselor dalam konseling.
  2. Laquer percaya bahwa kompetisi di antara keluarga di dalam sistem konseling keluarga ganda ini, akan menghasilkan perubahan yang lebih cepat dala tahap awal penanganan. Sedang kooperasi (kerjasama) akan menimbulkan kompetisi pada tahap akhirnya.
  3. Konseling keluarga ganda akan membantu menyebarluaskan bahwa individu anggota keluarga harus mengerti tingkah lakunya, reaksi-reaksinya, dan tabiat-tabiatnya secara umum terhadapa orang lain dalam lingkungannya. Konselor menggunakan konsep ini dalam mengembangkan interaksi untuk membuat perasaan, problem-problem, dan kebutuhan orang-orang yang diobati itu yang sebelumnya ditutp-tutupi, sehingga dengan demikian dapat ditemuaka cara baru untuk menangani mereka.
  4. Anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengamati keadaan konflik yang sejenis. Untuk melihat bahwa keluarga yang lain mempunyai problem yang dapat dibandingkan dengan problemnya.
  5. Konseling keluarga ganda seperti yang dikatakan Laquer, memeberikan kesempatan dengan apa yang dia sebut belajar melalui identifikasi. Dia tunjukkan bahwa orang dapat mengerti peranannya dan mengembangkan secara efektif dengan mengamati orang lain dalam hubungan-hubungannya. Perkawinan dapat menjadi baik setelah orang itu mengamati perkawinan orang lain. Hubungan anak dan orang tua dapat menjadi baik setelah melihat hubungan anak dan orang tua lain.
  6. Pengalaman konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mencoba gaya tingkah laku baru. Dapat melihat bagaimana oramng lain memnerikan kepada mereka jika mereka beretingkah laku lain. Dalam konseling keluarga ganda ini dimana hubungan keluarga-keluarga disatukan, klien dan anggota keluarga lain merasa dan aman untuk membangun tingkah laku yang adaptif dibandingkan dengan keadaan dalam konseling keluarga tunggal (hanya keluarganya sendiri).
  7. Karena adanya sifat terbuka pada akhirnya akan membuat keluarga yang bersangkutan berbeda-beda tahap penanganannya. Ia menyatakan bahwa orang dengan besar sintomnyadalam keanggotaan kelompok konseling keluarga ganda ini, mengembangkan perubahan dan sikap berikutnya dalam perubahan itu terjadi pada anggota kelompok yang lain setelah melihat adanya tabiat yang dewasa dari model yang pertama tadi.
    h. Konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada konselor untuk menggunakan tipe tingkah laku yang lebih baru, lebih realistis seperti yang ditunjukkan oleh seorang individu atau keluargasebagai dasar untukmengarahkan perhatian seluruh kelompok serta untuk mengajak seluruh keluarga dan individu lain memiliki situasi yang efektif dan realistis seperti tersebut di atas.
Laquer menjelaskan bahwa kelompok konseling keluartga ganda mudah berubah pendirian dan mudah goncang dan gagal jika konselor tidak membawanya ke dalam situasi yang baru. Konselor harus memiliki kecakapan untuk membetulkan dengan cepat jika terjadi kesalahan fungsi, harus ada inisiatif untuk memilih pendekatan-pendekatan dalam situasi yang kritis.
Laquer menganjurkan perlunya evaluasi yang lebih seksama dan penelitia selanjutnya. Dia juga menunjukkan kesimpulan sementara mengenai konseling keluaraga ganda ini berdasarkan 600 keluarga yang mengalami konseling ini. [6]



KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Konseling keluarga memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Konseling keluarga bertujuan membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga.
Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa apabila salah seorang anggota keluarga memiliki permasalahan, hal itu akan berpengaruh terhadap persepsi, harapan, dan interaksi anggota keluarga lainnya. Memperjuangkan (dalam konseling), sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan. Mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain.




DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Konseling_keluarga
http://r-doc.blogspot.com/2010/11/teknik-teknik-dalam-bimbingan-dan.html
http://www.scribd.com/doc/75657031/DINAMIKA-KELUARGA
http://www.scribd.com/doc/75657031/DINAMIKA-KELUARGA
Willis, S. Sofyan, 2009. Konseling Keluarga. Alfabeta: Bandung

BIDANG- BIDANG DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

BIDANG- BIDANG DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Fenomena-fenomena yang sering terjadi dalam dunia pendidikan bahwa masyarakat sering menentukan, seorang anak yang belajar disuatu sekolah dikatakan berhasil jika ia mendapatkan ijasah dan nilai bagus, tanpa memperhatikan bekal atau keahlian yang dimiliki oleh peserta didik.
Tentunya ini adalah suatu fenomena dari sekian fenomena dunia pendidikan dinegara kita saat ini. Dengan diperlakukannya kurikulum 2004 pada saat ini, akan membawa perubahan bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan adanya hal ini guru dituntut untuk lebih terampil dalam menyampaikan suatu metode pembelajaran.
Sama halnya layanan bimbingan dan konseling, yang sesungguhnya upaya ini tidak bisa terlepas dari kegiatan belajar mengajar disekolah, karena dengan adanya bimbingan dan konseling disekolah siswa dapat mengenal potensi diri dan segala komponene yang ada dalam dirinya.
Yang perlu diperhatikan dalam memberikan layanan bimbingan kepada peserta didik, harus tetap berfokus pada empat jenis layanan bimbingan. Jenis kegiatan bimbingan dan konseling ini dapat dikelompokkan yaitu :
1. Bidang Pribadi
Yang notabene harus tetap diberikan kepada seluruh siswa, baik siswa yang bermasalah atau tidak.
2. Bidang Sosial
Bidang ini kerap diberikan pada iswa yang merasa kesulitan dalam membina pergaulan karena beberapa hal, baik dari luar atau dalam.
3. Bidang Belajar
Yang harus diberikan secara kontinuitas selama kegiatan belajar berlangsung, setiap guru pembimbing wajib memantau hasil kegiatan belajar siswa asuhannya, tentu harus kerjasama dengan wali kelas.
4. Bidang Karir
Hendaknya dilakukan dengan obrolan dua arah antara konselor, dalam hal ini guru pembimbing dengan siswa asuhannya seputar masalah cita-cita berikut kendala yang dihadapinya.

Deengan upaya ini siswa diharapkan bisa mengukur kemampuan diri, sehingga potensinya bisa terungkap melalui layanan ini. Bahkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling berjalan baik setiap jenjang tingkatan pendidikan disekolah, akan terasa besar manfaatnya yang dapat dirasakan oleh berbagai pihak. Baik masyarakat sekolah, yakni kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua juga masyarakat luar yang terkadang turut memberikan penilaian terhadap kualitas seorang lulusan suatu sekolah.
Ketika peserta didik akan melibatkan dirinya dimasyarakat, penilaian masyarakat tidak lagi hanya berdasarkan pada nilai yang diraih anak tersebut, tapi langsung life skill yang dimilikinya. Untuk menciptakan ini semuanya diperlukan kerjasama yang kuat berbagai pihak terkait, baik guru BK, wali kelas, kepala sekolah, orangtua dan guru.
Sehingga akan optimal layanan bimbingan dan konselingdisetiap jenjang pendidikan di Indonesia, bisa lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan bisa menghasilkan sumber daya manusia ( SDM ) yang berkualitas..

jenis layanan Bimbingan dan Konseling

Jenis Layanan
Prayitno, menjelaskan bahwa layanan BK mencakup sembilan jenis layanan, yaitu:
1) Layanan Orientasi
Layanan orientasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien dalam lingkungan baru tersebut.


2) Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.
3) Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memperoleh penempatan dan penyaluran yang sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.
4) Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten yakni layanan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.
5) Layanan Konseling Individual
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli/klien. Konseli/klien mengalami kesukaran pribadi yang tidak dapat dipecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor sebagai petugas yang profesional dalam jabatannya dengan pengetahuan dan ketrampilan psikologi. Konseling ditujukan pada individu yang normal, yang menghadapi kesukaran dalam mengalami masalah pendidikan, pekerjaan dan sosial dimana ia tidak dapat memilih dan memutuskan sendiri. Dapat disimpulkan bahwa konseling hanya ditujukan pada individu-individu yang sudah menyadari kehidupan pribadinya.
6) Layanan Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri konseli/klien. Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.
7) Layanan Konseling Kelompok
Strategi berikutnya dalam melaksanakan program BK adalah konseling kelompok. Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada peserta didik dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.
8) Layanan Mediasi
Layanan mediasi yakni layanan konseling yang memungkinkan permasalahan atau perselisihan yang dialami klien dengan pihak lain dapat terentaskan dengan konselor sebagai mediator.
9) Layanan Konsultasi
Pengertian konsultasi dalam program BK adalah sebagai suatu proses penyediaan bantuan teknis untuk konselor, orang tua, administrator dan konselor lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas peserta didik atau sekolah. konseling atau psikoterapi sebab konsultasi tidak merupakan layanan yang langsung ditujukan kepada klien, tetapi secara tidak langsung melayani klien melalui bantuan yang diberikan orang lain.

TEORI kONSTRUKTIVISTIK


MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Dosen Pengampu  : Sri Sumarsih, M.Pd





Disusunoleh:

                                       Nama          :   Anis Kurlaeli       (1111500078)
                                                                 Mutia Nurjanah  (1111500125)
                                                                 Nana Utami M    (1111500210)
                                                                 Norma Septiana  (1111500211)
                                                                 Tri Kartika          (1111500227)
                                                                 Pusdika Lestari  (1111500213)
                                                                 Farilza Hidayani(1111500185)
                                                                
                                                           
                                       Semester    :   III D



PROGDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga kami bisa menyusun sebuah makalah yang berjudul “TEORI KONSTRUKTIVISTIK” dengan baik.
Dalam menyusun makalah ini, kami berusaha untuk mengumpulkan materi dari berbagai sumber, namun demikian tetap disadari bawa makalah ini tidak terlepas dari berbagai kekurangan bahkan kesalahan. Sehubungan dengan hal tersebut, diharapkan adanya  saran yang bersifat menyempurnakan isi dari makalah ini yang akan diterima dengan senang hati disertai ucapan terimakasih.
Saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman dan bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya.




Tegal, Desember 2012


Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN

A.    LatarBelakang
Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret. Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasilkan menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang. Maka dari permasalahan tersebut, pemakalah tertarik melakukan penelitian konsep untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang terurai diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.   Bagaimana Proses mengkonstruksi pengetahuan
2.   Bagaimana Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik
3.   Perbandingan Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) dan Pembelajaran Konstruktivistik
4.   Kelebihan dan Kelemahan Teori Konstruktivistik

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Bagaiamana Proses mengkonstruksi pengetahuan
           Untuk memperbaiki pendidikan terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana cara mengajarnya. Kedua kegiatan tersebut dalam rangka memahami cara manusia mengkonstruksi pengetahuannya tentang objek-objek dan peristiwa-peristiwa yang dijumpai selama kehidupannya. Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Demikian juga, manusia akan mengkonstruksi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi dari dirinya. Pada bagian ini akan dibahas teori belajar konstruktivistik kaitannya dengan pemahaman tentang apa pengetahuan itu, proses mengkonstruksi pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran.

           Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai kunstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru bermaksud untuk mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tentang sesuatu kepada siswa, pentransfer itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
            Proses mengkonstruksi pengetahuan. Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungannya, misalnya dengan melihat, mendengar,menjamah, mambau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
 Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu;
1)    Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman
2)    Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
3)    Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
            Faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.
2.      Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik
Proses belajar konstruktivistik. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamanya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun diluar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya.
Peranan Siswa (Si-Belajar). Menurut pandangan konstrktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
Peranan Guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belaajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
 Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
1)    Menumbuhkan kemandiriran dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
2)    Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
3)    Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.
Evaluasi belajar. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik. Ada perbedaan penerapan evaluasi belajar antara pandangan behavioristik (tradisional) yang obyektifis konstruktivistik. Pembelajaran yang diprogramkan dan didesain banyak mengacu pada obyektifis, sedangkan Piagetian dan tugas-tugas belajar discovery lebih mengarah pada konstruktivistik. Obyektifis mengakui adanya reliabilitas pengetahuan, bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. Guru bertugas untuk menyampaikan pengetahuan tersebut. Realitas dunia dan strukturnya dapat dianalisis dan diuraikan, dan pemahaman seseorang akan dihasilkan oleh proses-proses eksternal dari struktur dunia nyata tersebut, sehingga belajar merupakan asimilasi objek-objek nyata. Tujuan para perancang dan guru-guru tradisional adalah menginterpretasikan kejadian-kejadian nyata yang akan diberikan kepada para siswanya.
 Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, dimana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
            Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasikan informasi kedalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. Jika hasil belajar dikonstruksi secara individual, bagaimana mengevaluasinya?
            Evaluasinya belajar pandangan behavioristik tradisional lebih diarahkan pada tujuan belajar. Sedangkan pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Evaluasi akan lebih obyektif jika evaluator tidak diberi informasi tentang tujuan selanjutnya. Jika tujuan belajar diketahui sebelum proses belajar dimulai, proses belajar dan evaluasinya akan berat sebelah. Pemberian kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan pada pembelajaran. Tujuan belajar mengarahkan pembelajaran yang juga akan mengontrol aktifitas belajar siswa.

Pembelajaran dan evaluasi yang menggunakan kriteria merupakan prototipe obyektifis/behavioristik, yang tidak sesuai bagi teori konstruktivistik. Hasil belajar konstruktivistik lebih cepat dinilai dengan metode evaluasi goal-free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik, memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik.
            Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi seperti tingkat “penemuan” pada taksonomi Merril, atau “strategi kognitif” dari Gagne, serta “sintesis” pada taksonomi Bloom. Juga mengkonstruksi pengalaman siswa, dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.
3.      Perbandingan Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) dan Pembelajaran Konstruktivistik
Proses pembelajaran akan efektif jika diketahui inti belajar yang sesungguhnya.Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak pada teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon sesuai dengan materi yang diceramahkan. Dalam pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks. Diharapkan siswa memiliki pandangan yang sama dengan guru, atau sama dengan buku teks tersebut. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi diantara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak dipertimbangkan. Siswa belajar dalam isolasi, yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.
Ketika menjawab pertanyaan siswa, guru tidak mencari kemungkinan cara pandang siswa dalam menghadapi masalah, melainkan melihat apakah siswa tidak memahami sesuatu yang dianggap benar oleh guru. Pengajaran didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah dianggap pasti atau baku, dan siswa harus memahaminya. Pengkonstruksian pengetahuan baru oleh siswa tidak dihargai sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan.
Berbeda dengan bentuk pembelajaran diatas, pembelajaran konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru.         Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk dipahami. Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa yang dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan, dan ditunjukkannya.
Secara rinci perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional atau behavioristik dan pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai berikut:
No.
Pembelajaran tradisional
Pembelajaran konstruktivistik
1.
Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.
Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
2.
Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4.
Siswa-siswa dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa
Siswa dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5.
Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
6.
Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada group proses dalam belajar
Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja di dalam group proses.

Karakteristik pembelajaran yang harus dilakukan adalah:
1     Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah diterapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
2     Menempatkan siswa sebaagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan di antara ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
3     Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terdapat macam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.
4     Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar di pahami, tidak teratur, dan tidak mudah di kelola.

4.      Kelebihan dan Kekurangan Teori Kunstruktivitas
  Kelebihan
-Kelebihan dalam proses pembelajaran konstruktivistik siswa dituntut untuk bisa berfikir aktif dalam belajar
-Kelebihan konstruktivistik dalam pembelajaran bisa adanya group
-Pembelajaran terjadi lebih kepada ide-ide dari siswa itu sendiri
Kekurangan
-Kekurangan apabila ada siswa yang pasif pembelajaran konstruktivistik ini tidak cocok untuk siswa pasif
-Siswa belajar secara konsep dasar tidak pada ketrampilan dari siswa itu sendiri
-Dalam pembelajarannya tidak memusatkan pada kurikulum yang ada                                                   
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.























DAFTAR PUSTAKA

Brooks, J.G, & Brooks, M., (1993). The case for constructivist classrooms.
Association for supervision and curriculum development. Alexandria Virginia
Degeng N.S, (1997). Pandangan Behavioristik vs Konstruktivistik: Pemecahan Masalah
Belajar Abad XXI. Malang: Makalah Seminar TEP.
Duffy, T.M., & Jonassen, D.H., (1992). Constructivism and The Technology of Instruction: A
Conversation. Lawrence Erbaum Associates, Publishers Hillsdale, New Jersey.
Jonanssen, D.H., (1990). Objectivism Versus Constructivism: Do We Need  New
Philosophical Paradigm? ERT & D, Vol. 29, No. 3, pp. 5-14.
Paul Suparno, (1996). Konstruktivisme dan Dampaknya terhadap Pendidikan. Kompas
Perkins, D.N., (1991). What Constructivism Demands of The Learner. Education
Technology. Vol. 33, No. 9, pp. 19-21
Raka Joni, T., (1990). Cara Belajar Siswa Aktif: CBSA: Artikulasi Konseptual, Jabaran Operasional, dan Verivikasi Empirik. Pusat Penelitian IKIP Malan
http://sajarwo87.wordpress.com/2012/02/27/teori-belajar-konstruktivistik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/