2.1 Definisi Konseling Realita
Terapi
realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku
sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta
mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi
kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya
sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan
tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental.
Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur
yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai sua tu
“identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling,
pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga
dan perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di
kalangan konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan
menengah, dan para pekerja rehabilitasi.
Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang
diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap
kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R):
realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsiblility).
Individu
harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi
masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi seseorang adalah mencoba
menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan. Seorang terapis
bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku
mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana
yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal
penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui
interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan
identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu
harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku
yang baru. Dalam hal ini terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong
individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan
dalam dirinya.
2.2 Perspektif Historis
Konseling
realita (reality counseling atau reality therapy) dikembangkan oleh
William Glasser pada tahun 1960-an sebagai reaksi penolakan terhadap
konsep-konsep dalam konseling psikoanalisa. Glasser memandang
Psikoanalisa sebagai suatu model perlakuan yang kurang memuaskan, kurang
efektif,dan oleh karena itu ia termotivasi untuk memodifikasi
konsep-konsep psikoanalisa dan mengembangkan pemikirannya sendiri
berdasarkan pengalaman hidup dan pengalaman klinisnya.
Glasser
lahir pada tahun 1925 di Ohio, USA. Pada awal karirnya Glasser adalah
seorang insyinyur kimia yang kemudian beralih ke bidang medis dan meraih
gelar dokter pada tahun 1953 dari Case Westem Reserve University.
Setelah itu Glasser berlatih dibidang psikiarti di Veterans
Administrasion Center dan di University of California.
Konseling realita dikembangkan oleh Glasser atas dasar pengalamanya
selama peraktek klinisnya antara 1956-1967. Pengalaman kehidupannya pada
masa kanak-kanak yang keras dan cenderung tidak menyenagkan juga
mempengaruhi pandangan teoritiknya,khususnya tentang penekanan pada
pentingnya tanggung jawab pribadi, tidak merugikan orang lain, dan
hubungan perkawinan. Seperti dikemukakan oleh Glasser sendiri (1998),
ayah dan ibunya menerapkan pendidikan yang keras dan otoriter terhadap
dirinya dan oleh karenanya ia tidak rukun dengan mereka.
Buku
pertama yang yang ditulis oleh Glasser, Mental Healt or Mental Illnes?
Menjadi grandwork bagi perkembangan teori konseling realita. Buku
keduanya, Really Therapy (1965) menegaskan prinsip-prinsip dasar dalam
Konseling realita, yakni tentang pentingnya hubungan dan tanggung jawab
guna mencapai tujuan dan kebahagiaan hidup. Ia memiliki keyakinan bahwa
konselor yang hangat dan penuh penerimaan merupakan aspek
esensial bagi keberhasilan perlakuan, dan hubungan yang akrab dan
positif adalah esensial bagi perkembangan pribadi yang sehat. Tilisan-tulisan
dalam materi kuliahnya tidak hanya menekankan pada konseling realita
sebagai metode perlakuan, tetapi menerapkan pada lingkungan sekolah dan
lingkungan bisnis. Robert E. Wubbolding adalah salah satu pengikut
Glesser yang memberikan kontribusi sangat penting bagi perkembangnan
konseling realita.
2.3 Pandangan Teori Realita Mengenai Konsepsi Tentang Manusia
2.3.1 Pandangan Tentang Sifat Dasar Manusia
Seperti
halnya teori–teori psikodinamik konseling realita memandang bahwa
kesulitan atau problema perilaku manusia berakar pada pengalaman pada
masa kanak-kanak. Untuk dapat berkembang dengan sehat anak perlu
berada ditengah-tengah orang dewasa yang dapat memberinya kasih sayng
secara penuh. Kasih sayang yang memungkinkan anak untuk memeperoleh
kebebasan kemampuan, dan kesenangan dalam cara-cara yang bertanggung
jawab. Oleh karena itu, sejak tahun-tahun awal dalam kehidupannya, anak
seharusnya memperoleh dukungan untuk membentuk sikap dan keyakinan bahwa
ia mampu untuk mengenali dan memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara
yang positif.
Konseling
ralita memandang manusia pada dasarnya dapat mengarahkan dirinya
sendiri (self-determining). Glasser juga memiliki keyakinan bahwa
individu memiliki kemampuan untuk menangani kesulitan-kesulitannya.
Seperti dikatakan Glasser “we are ralely the victims of what happened to us in the past”. Manusia
yang tidak mau belajaruntuk memenuhi kebutuhan mereka pada tahun-tahun
awal kehidupan cenderung berpotensi mengalami kesulitan dikemudian hari.
Pandangan optimistik Glasser tersebut menegaskan bahwa manusia dapat
mengubah perasaan, tindakan dan nasib kehidupannya sendiri. Namun, itu
dapat dilakukan hanya jika manusia telah menerima tanggung jawab dan
bersedia mengubah identitasnya.
Glasser
dan Wubbolding memiliki keyakinan bahwa semua manusia ketika dilahirkan
membawa lima kebutuhan dasar atau genetik yang membuat mereka dapat
mengembangkan kualitas kepribadian yang berbeda, sebagai berikut:
§ , yakni kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, dan kebutuhan untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain.
§ Kebutuhan
untuk merasa mampu atau berprestasi, yakni kebutuhan untuk merasa
berhasil dan kompeten, berharga, dan dapat mengendalikan atau
mengkontrol kehidupan sendiri.
§ Kebutuhan untuk mendapatkan kesenangan, yakni kebutuhan untuk bisa menikmati kebutuhan hidup, untuk bisa tertawa dan bermain.
§ Kebutuhan
untuk memperoleh kebebasan atau kemandirian, yaitu kebutuhan untuk
mampu membuat pilihan, untuk bisa hidup tanpa batas-batas yang
berlebihan atau tidak perlu.
§ Kebutuhan
untuk hidup, yakni termasuk didalamnya memperoleh kesehatan, makanan,
udara, perlindungan, rasa aman dan kenyamanan fisik.
Kebutuhan-kebutuhan
tersebut dapat saling tumpang tindih satu sama lain. Oleh karena itu,
memenuhi suatu kebutuhan mungkin dapat memicu atau mempercepat kebutuhan
yang lain. Bagaimanapun antara kebutuhan-kebutuhan tersebut mungkin
saja terjadi konflik. Contohnya, orang yang bekerja keras untuk mencapai
prestasi atau keberhasilan dalam mencapai kemandirian dan kekuasaan,
mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang menyenangkan
dengan orang lain.
2.3.2 Perilaku Bermasalah
Reality
therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu
sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling
realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau
berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang
tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam
memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas
objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya,
tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat
melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas.
Meskipun
konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala
abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah
”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan,
penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif,
lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak
kenyataan.
Menurut
Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para
klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang
mencangkup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan
untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun
bagi oaring lain”.
Pandangan
tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan
pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas
keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan
identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena
individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah
lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas
tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka
jelaslah bahwa terapi realitas yidak berpijak pada filsafat
deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa
manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Perinsip ini
menyiratkan bahwa masing-masing orang memilkiki tanggung jawab untuk
menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri.
Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.
2.3.3 Realita
Konseling Realita
memandang individu dalam arti perilaku yang dapat diamati tetapi bukan
dalam arti paradigma stimulus respon seperti halnya pandangan para
konselor perilaku pada umumnya, dan bukan pula dalam arti fenomenologis seperti pandangan konselor humanistik. Konseling realita melihat perilaku melalui standart obyektif yang disebut realita (realiti). Realita ini dapat bersifat praktis (realitas praktis), realita sosial (realitas sosial), dan realita moral (realitas moral). Jadi,
para konselor konseling realita memandang individu dalam arti apakah
perilakunya sesuai atau tidak sesuai dengan reaita praktis, realita
sosial, dan realita moral. Lengkapnya, Glasser mendasarkan sistem
teorinya pada apa yang ia sebut dengan “3R”. 3R tersebut merupakan
akronim dari reality (realita), responsibility (tanggung jawab), right
and wrong (benar salah). Namun demikian, Glasser sebenarnya masih
menambahkan 2R yang lain, yakni: relatedness (hubungan sosial) dan
respect (penghargaan).
2.4 Pokok-pokok Teori Konseling Realita
- Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Justru ia berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab. Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
- Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap tidak penting, tetapi terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process) dan bukan proses penyembuhan (healing process). Itu sebabnya terapi realitas sering menggunakan pula pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat menyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.
- Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
- Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
- Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.
2.5 Tujuan Koseling Realita
Tujuan konseling realita adalah membantu konseli agar memiliki kontrol yang lebih besar terhadap kehidupanya sendiri dan mampu membuat pilihan yang lebih baik.
Pilihan yang lebih baik tersebut merupakan suatu pilihan yang bijaksana
yang dipersepsi sebagai pilihan yang memenuhi kriteria berikut:
§ Dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar
§ Bertanggung jawab
§ Realistik
§ Memungkinkan untuk dapat menjalin hubungan yang saling memuaskan dengan orang lain
§ Memungkinkan untuk mengembangkan identitas berhasil
§ Memungkinkan untuk memiliki ketrampilan yang konsisten untuk membentuk tindakan yang sehat yang meningkatkan prilaku totalnya
Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, karakteristik konselor realitas adalah sebagai berikut:
§ konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapat memenuhi kebutuhannya.
§ Konselor
harus kuat, yakin, tidak pernah ”bijaksana”, dia harus mampu menahan
tekanan dari permintaan klien untuk simpati atau membenarkan
perilakunya, tidak pernah menerima alasan-alasan dari perilaku
irrasional klien.
§ konselor harus hangat, sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilaku orang lain
§ konselor
harus dapat bertukar fikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat
melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertangung jawab
termasuk pada saat-saat yang sulit.
PERAN KONSELOR :
§ Konselor terlibat dengan klien membawa klien menghadapi realita
§ Tidak membuat pertimbangan nilai dan keputusan bagiklien
§ Mengajarkan konseli membuat rencana & ketrampilan
§ Bertindak tegas
§ Pembimbing
§ Moralis
§ Memberi hadiah
§ Mengajar klien
FUNGSI KONSELOR :
§ Terlibat dengan klien dan kemudian membawa lien menghadapi realita
§ Sebagai pembimbing untuk membantu akan menafsirkan tingkah laku mereka secara ralistis
§ Keterlibatan (Involument)
§ Sebagai contoh perilaku yang baik
2.6 Teknik dan Proses Konseling Realita
Konseling
Realita menggunakan banyak teknik untuk mencapai tujuan-tujuan
konseling, khususnya teknik-teknik dari perspektif konseling perilaku
seperti yang telah dikemukakan. Teori konseling realita memiliki
beberapa teknik tersendiri yaitu:
· Metapor
Konselor
menggunakan taknik ini seperti senyuman, imej, analogi, dan anekdot
untuk memberi konseli suatu pesan penting dalam ccara yang efekitif.
Konselor juga mendengarkan dan menggunakan metapor yang ditampilkan diri
konseli
· Hubungan
Menggunakan
hubungan sebagai bagian yang asensial dalam proses terapoutik. Hubungan
ini harus memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenagkan, positif,
tidak menilai, dan mendorong kesadaran konseli.
· Pertanyaan
Konselor
menekankan evaluasi dalam perilaku total, asesmen harus berasal dari
konseli sendiri. Konselor tidak mengatakan apa yang harus dilakukan
koseli, tetapi menggunakan pertanyaan yang terstruktur dengan baik untuk
membantu konseli menilai hidupnya dan kemudian merumuskan
perilaku-perilaku yang perlu dan tidak perlu di ubah.
· WDEP & SAMI2C3
Merupakan akronim dari wants (keinginan),
direction (arahan), evaluasi (penilaian), dan planing (rencana). Teknik
ini digunakan untuk membantu konseli menilai keinginan-keinginannya.
Perilaku-perilakunya, dan kemudian merumuskan rencana-rencana.
SAMI2C3
mempersentasikan elemen-elemen yang memaksimalkan keberhasilanya
keberhasilan rencana : mudah/ sederhana (simple), dapat dicapai
(attainable), dapat diukur (measurable), segera (immedate), melibatkan
tindakan (involving), dapat dikontrol (controled), konsisten
(consistent), dan menekankan pada komitmen (committed)
· Renegosiasi
Konseli
tidak selalu dapat menjalankan rencana perilaku pilihanya. Jika ini
terjadi, maka konselor mengajak konseli untuk membuat rencana ulang dan
menemukan pilihan perilaku lain yang lebih mudah.
· Intervebsi paradoks
Terinspirasi
oleh Frankl (pendiri konselng Gestalt), Glasser menggunakan paradoks
untuk mendorong konseli menerima tanggung jawab bagi perilakunya
sendiri. Intetrvensi paradoksikal ini memiliki dua bentuk rerabel atau
reframe dan paradoxical pressciption.
· Pengembangan ketrampilan
Konselor
perlu membantu konseli mengembangkan ketrampilan untuk memnuhi
kebutuhan dan keinginan-keinginannya dalam cara yang bertanggung jawab.
Koselor dapat mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan seperti
perilaku asertif, berfikir rasional, dan membuat rencana.
· Adiksi positif
Menurut
Glesser, merupakan teknik yang digunakan untuk menurunkan barbagai
bentuk perilaku negatif dengancara memberikan kesiapan atau kekuatan
mental, kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong olahraga
yang teratur, menulis jurnal, bermain musik, yoga, dan meditasi.
· Penggunakan kata kerja
Dimaksudkan
untuk membantu jonseli agar mampu mengendalikan hidup mereka sendiri
dan membuat pilihan perilaku total yang positif. Daripada
mendeskripsikan koseli dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau
cemas konselor perlu menggunakan kata memarahi, mendepresikan,
memfobiakan, atau mencemaskan. Ini mengimplikasikan bahwa emosi-emosi
tersebut bukan merupakan keadaan yang mati tetapi bentuk tindakan yang
dapat diubah.
· Konsekuensi natural
Konselor
harus memiliki keyakinan bvahwa konseli dapat bertanggung jawab dan
karena itu dapat menerima konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak
perlu menerima permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi
juga tidak memberikan sangsi. Alih-alih koselor lebih memusatkan pada
perilaku salah atau perilaku lain yang bisa membuat perbedaan sehingga
konseli tidak perlu mengalami kosekuensi negatif dari perilakunya yang
tidak bertanggung jawab.
Proses Konseling
Konseling
realita menekankan pentingnya hubungan antara konselor dan konseli dan
macam hubungan ini dipandang esensial dalam proses perlakuan. Dengan
demikian kemampuan konselor untuk terlibat dengan konseli merupakan
ketrampilan esensial dalam konseling realita. Glasser Wubbolding
mengemukakan beberapa cara untuk mencapai keterlibatan sebagai berikut:
§ Bertindak
sebagai guru dan mendegarkan konseli dengan penuh perhatian, hangat,
bersahabat, merawat, respek, optimis, jujur, dan tulus.
§ Bersedia untuk membuka diri pada konseli.
§ Menggunakan kata gfanti saya dan kita untuk menekankan sifat kolaboratrif.
§ Tidak menggunakan tekanan, penilaian dan pemaksaan pada konseli, tetapi memotivasi konseli melalui dorongan dan penguatan.
§ Memusatkan perhatian pada perilaku sekarang.
§ Menggunakan pertanyaan “apa” dan bukan “mengapa”
§ Tidak menerima permintaan maaf.
§ Jika perlu mengunakan konsultasi, pendidikan, dan tindak lanjut guna memfasilitasi perlakuan.
§ Tegas dalam membantu konseli dan tak pernah menyerah.
2.7 Ilustrasi Kasus
Amir
siswa kelas 7 SMP, dia sangat tidak disiplin sehingga dia mengalami
hambatan dalam menjalankan kewajibannya sebagai siswa disekolah. Hal ini
tentu akan berakibat pada proses belajar mengajar dan
prestasi belajar Amir disekolah. Bimbingan bagi Amir ini sangat
diperlukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dan agar membuat
Amir dapat mengikuti proses belajar mengajar secara baik.
Dalam
hal ini, Amir diberikan bantuan dengan konseling realita dengan
menggunakan prosedur WDEP. Amir diingatkan kembali pada
keinginan-keinginannya, tujuannya, kemudian memberikan arahan-arahan
merumuskan rencana baru dan konselor memberikan pengawasan terhadap
perillakunya
sipokeeh sleketep :)
AntwoordVee uitkeren bgt
Vee uitlumayan brooohhh
AntwoordVee uitmantab gan....
AntwoordVee uitnumpang share yah :)
siiip dah mbak'e....maju terus blognya :)
AntwoordVee uitmantabbbbbbbbb
AntwoordVee uitSegeerrr.. ...
AntwoordVee uitwuidih mntep yh ..:D
AntwoordVee uitlanjutkan karyamu...
AntwoordVee uitkeren mbus
AntwoordVee uitoke banget..
AntwoordVee uitmakasih bu guru teorinya,..
AntwoordVee uitbisa wat dokumen nich.........
AntwoordVee uitsangat bermanfaat buat kita :)
AntwoordVee uithmmm,, smg bisa mjd konselor profesional,,dlm hal apapun deh,,
AntwoordVee uit