Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Dosen Pengampu : Sri Sumarsih,
M.Pd
Disusunoleh:
Nama :
Anis Kurlaeli (1111500078)
Mutia Nurjanah (1111500125)
Nana
Utami M (1111500210)
Norma
Septiana (1111500211)
Tri
Kartika (1111500227)
Pusdika Lestari (1111500213)
Farilza
Hidayani(1111500185)
Semester : III D
PROGDI
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU
KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI
TEGAL
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga
kami bisa menyusun sebuah makalah yang berjudul “TEORI KONSTRUKTIVISTIK” dengan baik.
Dalam menyusun makalah ini, kami
berusaha untuk mengumpulkan materi dari berbagai sumber, namun demikian tetap disadari bawa makalah ini tidak terlepas dari berbagai kekurangan bahkan kesalahan. Sehubungan dengan hal tersebut,
diharapkan adanya saran yang bersifat menyempurnakan isi dari makalah ini yang
akan diterima dengan senang hati disertai ucapan terimakasih.
Saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca
yang budiman dan bagi kemajuan dunia pendidikan
Indonesia pada umumnya.
Tegal, Desember 2012
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam
dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah
konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran
membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba
memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada
benda-benda konkret. Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa
sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang
pendidik tidak akan berhasilkan menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat
memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk
meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses
mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi
itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam
mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang. Maka dari permasalahan
tersebut, pemakalah tertarik melakukan penelitian konsep untuk mengetahui
bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa
mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri,
sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai
pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan
pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan
permasalahan yang terurai diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana Proses mengkonstruksi pengetahuan
2. Bagaimana Proses Belajar Menurut Teori
Konstruktivistik
3. Perbandingan Pembelajaran Tradisional
(Behavioristik) dan Pembelajaran Konstruktivistik
4. Kelebihan
dan Kelemahan Teori Konstruktivistik
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Bagaiamana Proses mengkonstruksi
pengetahuan
Untuk memperbaiki pendidikan
terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana manusia belajar dan bagaimana cara
mengajarnya. Kedua kegiatan tersebut dalam rangka memahami cara manusia
mengkonstruksi pengetahuannya tentang objek-objek dan peristiwa-peristiwa yang
dijumpai selama kehidupannya. Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau
peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Demikian juga, manusia
akan mengkonstruksi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan
seseorang merupakan konstruksi dari dirinya. Pada bagian ini akan dibahas teori
belajar konstruktivistik kaitannya dengan pemahaman tentang apa pengetahuan
itu, proses mengkonstruksi pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan,
realitas, dan kebenaran.
Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan
konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang
sedang dipelajari, melainkan sebagai kunstruksi kognitif seseorang terhadap
objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang
sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya.
Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang
yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan
dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang
lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru bermaksud untuk
mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tentang sesuatu kepada siswa,
pentransfer itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri
melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
Proses mengkonstruksi pengetahuan.
Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya. Melalui interaksinya
dengan objek dan lingkungannya, misalnya dengan melihat, mendengar,menjamah,
mambau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan
bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan.
Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya,
pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut akan meningkat
dan lebih rinci.
Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada
beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan,
yaitu;
1)
Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman
2)
Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
3)
Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi
proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan yang telah ada,
domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan
hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi
pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang
baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan.
Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya
akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan
membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.
2. Proses Belajar Menurut Teori
Konstruktivistik
Proses
belajar konstruktivistik. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang
dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung
satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh
siswa kepada pengalamanya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara
pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari
segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang
terlepas-lepas. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu
tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui
interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya
kelas maupun diluar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus
diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata
pada pengelolaan dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau
prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti
nilai, ijasah, dan sebagainya.
Peranan
Siswa (Si-Belajar). Menurut pandangan konstrktivistik, belajar
merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan
oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun
konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang
dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang
optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah
lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada
siswa.
Peranan
Guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan
membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar.
Guru hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut
lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belaajar. Guru tidak
dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai
dengan kemauannya.
Peranan kunci guru dalam
interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
1) Menumbuhkan
kemandiriran dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan
bertindak.
2) Menumbuhkan
kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan
dan ketrampilan siswa.
3) Menyediakan
sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang
optimal untuk berlatih.
Sarana
belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama
dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan
fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi
kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang
dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk
berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis,
kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.
Evaluasi
belajar. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan
belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap
realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang
didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha
mengevaluasi belajar konstruktivistik. Ada perbedaan penerapan evaluasi belajar
antara pandangan behavioristik (tradisional) yang obyektifis konstruktivistik.
Pembelajaran yang diprogramkan dan didesain banyak mengacu pada obyektifis,
sedangkan Piagetian dan tugas-tugas belajar discovery lebih mengarah
pada konstruktivistik. Obyektifis mengakui adanya reliabilitas pengetahuan,
bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan
telah terstruktur dengan rapi. Guru bertugas untuk menyampaikan pengetahuan
tersebut. Realitas dunia dan strukturnya dapat dianalisis dan diuraikan, dan
pemahaman seseorang akan dihasilkan oleh proses-proses eksternal dari struktur
dunia nyata tersebut, sehingga belajar merupakan asimilasi objek-objek nyata.
Tujuan para perancang dan guru-guru tradisional adalah menginterpretasikan
kejadian-kejadian nyata yang akan diberikan kepada para siswanya.
Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa
realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan
menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkan
perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari
pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk
menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik
mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan
kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, dimana interpretasi
tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan
dapat menginterpretasikan informasi kedalam pikirannya, hanya pada konteks
pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan
minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi
fungsi konseptual dunia eksternal. Jika hasil belajar dikonstruksi secara
individual, bagaimana mengevaluasinya?
Evaluasinya belajar pandangan behavioristik tradisional
lebih diarahkan pada tujuan belajar. Sedangkan pandangan konstruktivistik menggunakan
goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan
evaluasi pada tujuan spesifik. Evaluasi akan lebih obyektif jika evaluator
tidak diberi informasi tentang tujuan selanjutnya. Jika tujuan belajar
diketahui sebelum proses belajar dimulai, proses belajar dan evaluasinya akan
berat sebelah. Pemberian kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan pada
pembelajaran. Tujuan belajar mengarahkan pembelajaran yang juga akan mengontrol
aktifitas belajar siswa.
Pembelajaran
dan evaluasi yang menggunakan kriteria merupakan prototipe
obyektifis/behavioristik, yang tidak sesuai bagi teori konstruktivistik. Hasil
belajar konstruktivistik lebih cepat dinilai dengan metode evaluasi goal-free.
Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik,
memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik.
Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan
pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses
berfikir yang lebih tinggi seperti tingkat “penemuan” pada taksonomi Merril,
atau “strategi kognitif” dari Gagne, serta “sintesis” pada taksonomi Bloom.
Juga mengkonstruksi pengalaman siswa, dan mengarahkan evaluasi pada konteks
yang luas dengan berbagai perspektif.
3. Perbandingan
Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) dan Pembelajaran Konstruktivistik
Proses
pembelajaran akan efektif jika diketahui inti belajar yang
sesungguhnya.Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak
pada teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi
pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan
memberikan respon sesuai dengan materi yang diceramahkan. Dalam pembelajaran,
guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai
dengan urutan isi buku teks. Diharapkan siswa memiliki pandangan yang sama
dengan guru, atau sama dengan buku teks tersebut. Alternatif-alternatif
perbedaan interpretasi diantara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks
tidak dipertimbangkan. Siswa belajar dalam isolasi, yang mempelajari kemampuan
tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.
Ketika menjawab pertanyaan siswa, guru tidak mencari
kemungkinan cara pandang siswa dalam menghadapi masalah, melainkan melihat
apakah siswa tidak memahami sesuatu yang dianggap benar oleh guru. Pengajaran
didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah dianggap pasti atau baku,
dan siswa harus memahaminya. Pengkonstruksian pengetahuan baru oleh siswa tidak
dihargai sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan.
Berbeda dengan bentuk pembelajaran diatas, pembelajaran
konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi
baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang
selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru. Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk
dipahami. Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali
atau apa yang dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan
dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada
apa yang dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan, dan ditunjukkannya.
Secara rinci perbedaan karakteristik antara pembelajaran
tradisional atau behavioristik dan pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai
berikut:
No.
|
Pembelajaran tradisional
|
Pembelajaran konstruktivistik
|
1.
|
Kurikulum
disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada
keterampilan-keterampilan dasar.
|
Kurikulum
disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih
mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
|
2.
|
Pembelajaran
sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
|
Pembelajaran
lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
|
3.
|
Kegiatan
kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
|
Kegiatan
kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan
manipulasi bahan.
|
4.
|
Siswa-siswa
dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru,
dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan
informasi kepada siswa
|
Siswa
dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang
dirinya.
|
5.
|
Penilaian
hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari
pembelajaran dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
|
Pengukuran
proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan
pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa,
serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
|
6.
|
Siswa-siswa
biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada group proses dalam belajar
|
Siswa-siswa
banyak belajar dan bekerja di dalam group proses.
|
Karakteristik
pembelajaran yang harus dilakukan adalah:
1
Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang
sudah diterapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
ide-idenya secara lebih luas.
2
Menempatkan siswa sebaagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan
di antara ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide
tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
3 Guru
bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks,
dimana terdapat macam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari
berbagai interpretasi.
4 Guru
mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang
kompleks, sukar di pahami, tidak teratur, dan tidak mudah di kelola.
4.
Kelebihan
dan Kekurangan Teori Kunstruktivitas
Kelebihan
-Kelebihan dalam proses
pembelajaran konstruktivistik siswa dituntut untuk bisa berfikir aktif dalam
belajar
-Kelebihan konstruktivistik
dalam pembelajaran bisa adanya group
-Pembelajaran terjadi lebih
kepada ide-ide dari siswa itu sendiri
Kekurangan
-Kekurangan apabila ada siswa
yang pasif pembelajaran konstruktivistik ini tidak cocok untuk siswa pasif
-Siswa belajar secara konsep
dasar tidak pada ketrampilan dari siswa itu sendiri
-Dalam pembelajarannya tidak
memusatkan pada kurikulum yang ada
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih
menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.
Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan
dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, J.G, & Brooks, M., (1993). The
case for constructivist classrooms.
Association for supervision and curriculum
development. Alexandria Virginia
Degeng N.S, (1997). Pandangan Behavioristik
vs Konstruktivistik: Pemecahan Masalah
Belajar Abad XXI. Malang: Makalah Seminar
TEP.
Duffy, T.M., & Jonassen, D.H., (1992). Constructivism
and The Technology of Instruction: A
Conversation. Lawrence Erbaum
Associates, Publishers Hillsdale, New Jersey.
Jonanssen, D.H., (1990). Objectivism Versus
Constructivism: Do We Need New
Philosophical Paradigm? ERT & D,
Vol. 29, No. 3, pp. 5-14.
Paul Suparno, (1996). Konstruktivisme dan
Dampaknya terhadap Pendidikan. Kompas
Perkins, D.N., (1991). What Constructivism
Demands of The Learner. Education
Technology. Vol. 33, No. 9, pp. 19-21
Raka Joni, T., (1990). Cara Belajar Siswa
Aktif: CBSA: Artikulasi Konseptual, Jabaran Operasional, dan Verivikasi
Empirik. Pusat Penelitian IKIP Malan
http://sajarwo87.wordpress.com/2012/02/27/teori-belajar-konstruktivistik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/
Ijin copy yah buguru, buat referensi
AntwoordVee uitterima kasihhhhhhh :)
Nama ya Q ko kaga ada sii,Di Makalah Bu Sumarsih ...
AntwoordVee uit