Donderdag 16 Mei 2013

Teori Behavioristik


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dirilah yang dapat mengintropeksi pengamatan dan perasaannya sendiri. Dari pendapat Watson inilah munculnya aliran behaviorisme. Behaviorisme menurut Gerald Corey (2003:197-198) adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia.
Behavior atau tingkah laku tidaklah muncul satu set lengkap dalam diri manusia sebagai sebuah bawaan lahir. Namun perilaku terbentuk sebagai sebuah interaksi manusia dengan dunia disekelilingnya.
Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang membentuk kepribadian. Gerald Corey (2003:320) menyatakan bahwa manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial-budaya yang deterministik. Dalam arti tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian. Perilaku merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati (Rita L. Atkinson, 1999:8). Dengan pendekatan perilaku, tokoh psikologi asal Amerika Serikat John B. Watson mempelajari individu. Menurut Watson individu tidak dapat dipelajari dengan pendekatan instropeksi karena hanya individu itu sendiri.
Tingkah laku sebagai hasil belajar dan pengondisian berarti tingkah laku dibentuk melalui hukum-hukum belajar dan terkondisikan dengan cara memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Hukum-hukum belajar dalam kaitannya dengan tingkah laku meliputi hukum pembiasaan klasik, pembiasaan operan, dan peniruan.
Eksperimen tentang pembiasaan klasik pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Rusia bernama Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan cara memberi stimulus terkondisikan pada anjing melalui sinar lampu. Dengan stimulus yang diberikan anjing akan melakukan asosiasi dan mengulang-ulang respon jika diberikan stimulus yang sama. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar akan dilakukan dan mengalami penguatan jika diberikan situmus atau rangsangan. Sebagai contohnya siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Eksperimen tentang pembiasaan operan pertama kali dilakukan oleh B.F. Skinner. Dalam eksperimen ini diperlukan media sebagai stimulus tidak langsung. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar untuk mendapatkan hadiah, bukan akibat langsung dari belajar, namun merupakan media untuk mendapatkan sesuatu atas prestasi belajar. Sebagai contohnya adalah mendapatkan hadiah sepeda jika nilai bagus. Nilai bagus adalah akibat langsung dari belajar, namun sepeda bukan akibat langsung dari belajar namun akibat yang timbul karena nilai yang bagus.
B.     Rumusan Masalah
1.     Konsep Dasar/landasan historis
2.      Hekekat manusia                                
3.      Hakekat konseling
4.     Tujuan konseling                                          
5.      Karakteristik konseling                         
6.     Peran dan fungsi konselor
7.      Hubungan konselor dengan klien         
8.      Tahap konseling
9.     Teknik konseling
10.  Kelebihan dan keterbatasan                 



BAB II
PEMBAHASAN
1.      Konsep Dasar
Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak.
Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah yang tidak tampak.  Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Terapi perilaku ini lebih mengkonsentrasikan pada modifikasi tindakan, dan berfokus pada perilaku saat ini daripada masa lampau. Belakangan kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan ( Rakhmat, 1994:21).
Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan di sekitarnya.
Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.
Istilah behavioral conseling pertama sekali dikemukakan oleh Krumboltz.Ciri-ciri utama behavioral conseling ini adalah
1.      Proses pendidikan :Konseling membantu klien mempelajari tingkah laku baru untuk memecahkan masalahnya.
2.      Teknik rakit secara individual: Dalam proses konseling, menentukan tujuan konseling, proses asesmen,dan teknik-teknik dibangun oleh klien dengan bantuan konselor.
3.              Metodologi ilmiah: Konseling behavioral dilandasi oleh metode ilmiah dalam melakukan assesmen dan evaluasi konseling.
Pendekatan behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkahlaku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling.Pandangan ini melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial, sedikitsekali melihat potensi individu sebagai prosedur lingkungan. Pada awal pendekatan ini hanya mempercayai hal yang dapat diamati dan diukur sebagaisesuatu yang sah dalam pengukuran kepribadian (radical behaviorism), dan dikembangkan lebih lanjut yang mulai menerima fenomena yang abstrak seperti id, ego, super ego dan ilusi. Pendekatan ini memandang perilaku yang malajustru sebagai hasil belajar dari lingkungan secara keliru.
Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku.Modifikasi perilaku memiliki kelebihan dalam menangani masalah-masalah yang di alami oleh individu, yaitu :
1.      Langkah-langkah dalam memodifikasi perilaku dapat direncanakan terlebih dahulu.
2.      Perincian pelaksanaan dapat diubah selama treatmen disesuaikan dengan kebutuhan konseling.
3.      Bila berdasarkan evaluasi sebuah teknik gagal memberikan perubahan pada klien, teknik tersebut dapat diganti dengan teknik lain.
4.      Teknik-teknik konseling dapat dijelaskan dan diatur secara rasional sertadapat diprediksi dan dievaluasi secara objektif.
5.      Waktu yang dibutuhkan lebih singkat

Dalam memahami tingkah laku, terdapat beberapa model tingkah laku  yang dipengaruhi oleh teori-teori psikologi. Model-model tersebut antara lain:
a.       Model psikodinamika yaitu tingkah laku manusia ditentukan kehidupandinamika intra-psikis individu (id, ego, superego).
b.      Model biofisik yaitu tingkah laku ditentukan oleh organisasi neurologi,belajar perseptual motor, kesiapan fisiologis, integrasi dan perkembangansensori.
c.       Model lingkungan yaitu tingkah laku ditentukan oleh interaksi antaraindividu dan lingkungan.
d.      Model tingkah laku yaitu tingkah laku dapat diobservasi dan diukur.

2.      Hakekat Manusia
 Menurut Corey (2003: 198) menyatakan bahwa pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.
Sementara itu, Winkel (2004: 420) menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat psikologis, yaitu:
1.    Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek.
2.    Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3.    Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
4.   Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Berdasarkan dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya. Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai model pembelajarannya.

3.      Hakekat Konseling
Proses konseling merupakan suatu penataan proses pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah prilakunya agar dapat memecahkan masalahnya
a.       Hakikat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang sesuai.
b.      Konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ; penyusunan kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan eveluasi perilaku. Dengan prosedur tersebut konseling/terapi behavior berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang maladaptif menjadi adaptip.

4.      Tujuan Konseling
Tujuan  konseling behavioral  adalah membantu klien untuk mendapatkan tingkah laku baru. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku maladaptif. Konseling behavioral pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya respon-respon yang layak yang belum dipelajari. Dari tujuan diatas dapat dibagi menjadi beberapa sub tujuan yang lebih konkrit yaitu:
a.  Membantu klien untuk menjadi asertif dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat ke dalam situasi yang membangkitkan tingkah laku asertif (mempunyai ketegasan dalam bertingkah laku).
b. Membantu klien menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat dirinya dari keterlibatan peristiwa-peristiwa sosial.
c.  Membantu untuk menyelesaikan konflik batin yang menghambat klien dari pembuatan pemutusan yang penting bagi hidupnya.
Ada tiga fungsi tujuan konseling behavioral, yaitu : (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan demikian sebagai arah bagi proses konseling,  (2) sebagai dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling, dan (3) sebagai kerangka untuk menilai konseling.
Secara operasional tujuan konseling behavioral dirumuskan dalam bentuk dan istilah-istilah yang khusus, melalui : (1) definisi masalah, (2) sejarah perkembangan klien, untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya, (3) merumuskan tujuan-tujuan khusus, dan (4) menentukan metode untuk mencapai perubahan tingkah laku.
5.      Karakteristik Konseling Behavioral

Karakter konseling behavioral adalah sebagai berikut:
a.       Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
b.      Perubahan-perubahan  khusus  terhadap  lingkungan  individual  dapat membantu  dalam  merubah  perilaku-perilaku  yang  relevan;  prosedur-prosedur  konseling  berusaha  membawa  perubahan-perubahan  yang relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
c.       Prinsip-prinsip  belajar  sosial,  seperti misalnya  “reinforcement”  dan  “social modeling”,  dapat  digunakan  untuk  mengembangkan  prosedur-prosedur konseling.
d.      Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari layanan  konseling yang diberikan.
e.       Prosedur-prosedur  konseling  tidak  statik,  tetap,  atau  ditentukan sebelumnya,  tetapi  dapat  secara  khusus  didisain  untuk  membantu  konseli dalam memecahkan masalah khusus.
6.      Peran dan Fungsi Konselor
Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkahlaku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.
Hakikatnya  fungsi dan peranan  konselor  terhadap  konseli  dalam  teori  behavioral  ini adalah  :
a.       Mengaplikasikan  prinsip  dari  mempelajari  manusia  untuk  memberi fasilitas  pada  penggantian  perilaku  maladaptif  dengan  perilaku  yang  lebih adaptif.
b.      Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan  seseorang dari  perilaku yang  mengganggu  kehidupan  yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki  sepanjang sasaran itu  sesuai  dengan  kebaikan masyarakat secara umum.
Perubahan dalam perilaku itu harus di usahakan melalui suatu proses belajar atau belajar kembali, yang berlangsung selama proses konseling. Oleh karena itu ,proses konseling di pandang sebagai suatu proses pendidikan yang berpusat pada usaha membantu dan kesediaan di bantu untuk belajar perilaku baru dan dengan demikian mengatasi berbagai macam permasalah. Perhatian di fokuskan pada perilaku-perilaku tertentu yang dapat di amati ,yang selam aproses konseling melalui berbagai prosedur dan aneka teknik tertentu akhirnya menghasilkan perubahan yang nyata, yang juga dapat di saksikan dengan jelas. Semua usaha untuk mendatangkan perubahan dalam tingkah laku di dasar kanpadateori belajar yang di kenal dengan nama Behaviorism dan sudah di kembangkan sebelum lahirnya aliran Behavioral dalam konseling. Konselor behavioral memiliki peran yang sangat penting dalam membantu konseling. Wol pemengemukakan peran yang harus di lakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami konseli dan apa yang di kemukakantan pamenilai atau mengkritiknya. Dalam hal menciptakan iklim yang baik adalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modifikasi perilaku. Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu konseli melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang hendak dicapai


7.      Hubungan Konselor dengan Klien
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.
Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling.
Dalam hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
a.       Konselor memahami dan menerima klien.
  1. Antara konselor dan konseli saling bekerjasama.
  2. Konselor memberikan bantuan dalam arah yang di inginkan klien.
Inti dari hubungan adalah rasa saling menghormati , yang mencakup kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik menangani kesulitan mereka.

8.      Tahap Konseling
 Proses konseling dibingkai dalam bentuk kerangka kerja dalam membantu konseli untuk mengubah tingkah lakunya. Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut, dengan cara mendorong konseli untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Konseling behavioral memiliki empat tahap dalam proses konseling, yaitu :
1.  Melakukan Assesment :
Langkah awal kerja konselor adalah melakukan asesmen. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.

2.  Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Dalam hal ini Konselor dan konseli bersama-sama mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan konseli, yang terkait dengan :
a.       apakah merupakan tujuan yang  benar-benar diinginkan klien.
b.      apakah tujuan itu realistik
c.       bagaimana kemungkinan manfaatnya
d.      bagaimana kemungkinan kerugiannya.
3.   Implementasi Teknik (Technique Implementation)
Setelah tujuan konseling dirumuskan, konselor dan konseli menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencpai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang dialami konseli. Dalam implimentasi teknik konselor membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan intervensi.
4.   Evaluasi  dan Pengakhiran
        Evaluasi konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan.
Dalam hal ini konselor dan konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang diharapkan menetap.

      9.  Teknik Konseling
1.  Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok.
2. Desensitisasi Sistematis
Desensititasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

3. Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.
4. Pembentukan Tingkah laku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
    10. Kelebihan dan keterbatasan
Ø  Kelebihan pendekatan behavioral :
1.      Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan IPTEK kepada proses konseling.
2.      Pengembangan prilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur.
3.      Memberikan ilustrasi bagaimana keterbatasan lingkungan.
4.      Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan prilaku yang ada dimasa lalu.

Ø  Keterbatasan pendekatan behavioral :

1.       Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan mengabaikan hubungan pribadi
2.       Lebih konsentrasi pada teknik
3.       Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor
4.       Meskipun konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan yang spesifik tapi masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena itu tidak menuntut strategi konseling.
5.       Konstruk belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai hipotesis harus dites.
6.       Perubahan klien hanya berupa gejala yan dapat berpindah kepada bentuk perilaku lain.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
 Konseling Behavioral adalah salah satu  dari teori-teori konseling yang ada pada saat  ini. Konseling  behavioral  merupakan  bentuk  adaptasi  dari  aliran  psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Hal  yang  paling  mendasar  dalam  konseling  behavioral  adalah  penggunaan konsep-konsep  behaviorisme  dalam  pelaksanaan  konseling, .
Tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Klien menghadapi masalah karena salah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau masalah itu timbul karena terjadi penyimpangan perilaku dari apa yang seharusnya ia lakukan. Maka melalui konseling behavioral ini klien diharapkan mampu untuk meningkatkan ketrampilan sosial, memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan mengembangkan keterampilan self manajemen dan self control.

B.   Saran
Bentuk terapi konseling yang dibahas dalam makalah singkat ini dapat digunakan untuk terapi klien yang mengalami permasalahan dalam bertingkah laku. Dalam penerapan model konseling ini hendaknya konselor memiliki keahlian dan kerampilan yang benar-benar sesuai dan profesional pada bidangnya.



DAFTAR PUSTAKA
                  
Corey, Gerald. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Refika Aditama. Bandung.

Jones, Richard Nelson. (2011). Teori dan Praktik Konseling dan TerapiPustaka Pelajar. Yogyakarta.


Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Winkel, W.S. & M. M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Hendrarno, E. Supriyo & Sugiyo. 2003. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Pres.













2 opmerkings:

  1. makalah ini sangat membantu tugas saya
    terima kasih bu mutia

    AntwoordVee uit
  2. bagus dan bermanfaat buat referensi. :)

    AntwoordVee uit