BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dirilah yang dapat mengintropeksi
pengamatan dan perasaannya sendiri. Dari pendapat Watson inilah munculnya
aliran behaviorisme. Behaviorisme menurut Gerald Corey (2003:197-198) adalah
suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia.
Behavior
atau tingkah laku tidaklah muncul satu set lengkap dalam diri manusia sebagai
sebuah bawaan lahir. Namun perilaku terbentuk sebagai sebuah interaksi manusia
dengan dunia disekelilingnya.
Manusia adalah makhluk reaktif yang
tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai
kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini
menghasilkan pola-pola perilaku yang membentuk kepribadian. Gerald Corey
(2003:320) menyatakan bahwa manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian
sosial-budaya yang deterministik. Dalam arti tingkah laku dipandang sebagai
hasil belajar dan pengondisian. Perilaku merupakan kegiatan organisme yang
dapat diamati (Rita L. Atkinson, 1999:8). Dengan pendekatan perilaku, tokoh
psikologi asal Amerika Serikat John B. Watson mempelajari individu. Menurut
Watson individu tidak dapat dipelajari dengan pendekatan instropeksi karena
hanya individu itu sendiri.
Tingkah laku sebagai hasil belajar dan
pengondisian berarti tingkah laku dibentuk melalui hukum-hukum belajar dan
terkondisikan dengan cara memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi
pembentukan tingkah laku. Hukum-hukum belajar dalam kaitannya dengan tingkah
laku meliputi hukum pembiasaan klasik, pembiasaan operan, dan peniruan.
Eksperimen tentang pembiasaan klasik pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Rusia bernama Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan cara memberi stimulus terkondisikan pada anjing melalui sinar lampu. Dengan stimulus yang diberikan anjing akan melakukan asosiasi dan mengulang-ulang respon jika diberikan stimulus yang sama. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar akan dilakukan dan mengalami penguatan jika diberikan situmus atau rangsangan. Sebagai contohnya siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Eksperimen tentang pembiasaan klasik pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Rusia bernama Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan cara memberi stimulus terkondisikan pada anjing melalui sinar lampu. Dengan stimulus yang diberikan anjing akan melakukan asosiasi dan mengulang-ulang respon jika diberikan stimulus yang sama. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar akan dilakukan dan mengalami penguatan jika diberikan situmus atau rangsangan. Sebagai contohnya siswa belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Eksperimen tentang pembiasaan operan
pertama kali dilakukan oleh B.F. Skinner. Dalam eksperimen ini diperlukan media
sebagai stimulus tidak langsung. Dalam kaitannya dengan belajar maka belajar
untuk mendapatkan hadiah, bukan akibat langsung dari belajar, namun merupakan
media untuk mendapatkan sesuatu atas prestasi belajar. Sebagai contohnya adalah
mendapatkan hadiah sepeda jika nilai bagus. Nilai bagus adalah akibat langsung
dari belajar, namun sepeda bukan akibat langsung dari belajar namun akibat yang
timbul karena nilai yang bagus.
B. Rumusan Masalah
1. Konsep Dasar/landasan
historis
2. Hekekat
manusia
3. Hakekat
konseling
4. Tujuan konseling
5. Karakteristik
konseling
6. Peran dan fungsi
konselor
7. Hubungan
konselor dengan klien
8. Tahap
konseling
9. Teknik konseling
10. Kelebihan
dan keterbatasan
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Konsep
Dasar
Konseling
Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada
saat ini. Konseling behavioral merupakan bentuk
adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang menekankan
perhatiannya pada perilaku yang tampak.
Behaviorisme
adalah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun
1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai
reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah yang tidak
tampak. Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja
yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Terapi perilaku ini lebih
mengkonsentrasikan pada modifikasi tindakan, dan berfokus pada perilaku saat
ini daripada masa lampau. Belakangan kaum behavioris lebih dikenal dengan teori
belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.
Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan (
Rakhmat, 1994:21).
Behaviorisme
memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat
apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari
lingkungan di sekitarnya.
Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh
kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.
Istilah behavioral
conseling pertama sekali dikemukakan oleh Krumboltz.Ciri-ciri utama behavioral
conseling ini adalah
1. Proses pendidikan :Konseling
membantu klien mempelajari tingkah laku baru untuk memecahkan masalahnya.
2. Teknik rakit secara individual:
Dalam proses konseling, menentukan tujuan konseling, proses asesmen,dan
teknik-teknik dibangun oleh klien dengan bantuan konselor.
3.
Metodologi ilmiah: Konseling behavioral
dilandasi oleh metode ilmiah dalam melakukan
assesmen dan evaluasi konseling.
Pendekatan
behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkahlaku manusia yaitu
pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling.Pandangan ini
melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial, sedikitsekali melihat
potensi individu sebagai prosedur lingkungan. Pada awal pendekatan ini hanya
mempercayai hal yang dapat diamati dan diukur sebagaisesuatu yang sah dalam
pengukuran kepribadian (radical behaviorism), dan dikembangkan lebih lanjut yang mulai menerima fenomena yang abstrak
seperti id, ego, super ego dan ilusi. Pendekatan ini memandang perilaku
yang malajustru sebagai hasil belajar dari lingkungan secara keliru.
Konseling
behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai
tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku.Modifikasi perilaku memiliki
kelebihan dalam menangani masalah-masalah yang di alami oleh individu, yaitu :
1. Langkah-langkah dalam memodifikasi
perilaku dapat direncanakan terlebih dahulu.
2. Perincian pelaksanaan dapat diubah
selama treatmen disesuaikan dengan kebutuhan konseling.
3. Bila berdasarkan evaluasi sebuah
teknik gagal memberikan perubahan pada klien, teknik tersebut dapat diganti
dengan teknik lain.
4. Teknik-teknik konseling dapat
dijelaskan dan diatur secara rasional sertadapat diprediksi dan dievaluasi
secara objektif.
5. Waktu yang
dibutuhkan lebih singkat
Dalam
memahami tingkah laku, terdapat beberapa model tingkah laku yang dipengaruhi oleh teori-teori psikologi.
Model-model tersebut antara lain:
a. Model psikodinamika yaitu tingkah
laku manusia ditentukan kehidupandinamika intra-psikis individu (id, ego,
superego).
b. Model biofisik yaitu tingkah laku
ditentukan oleh organisasi neurologi,belajar perseptual motor, kesiapan
fisiologis, integrasi dan perkembangansensori.
c. Model lingkungan yaitu tingkah laku
ditentukan oleh interaksi antaraindividu dan lingkungan.
d. Model tingkah laku yaitu tingkah
laku dapat diobservasi dan diukur.
2.
Hakekat Manusia
Menurut Corey (2003: 198) menyatakan bahwa
pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang
manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang memiliki
kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada
dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap
tingkahlaku manusia itu dipelajari.
Sementara itu, Winkel (2004: 420)
menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan
tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat
psikologis, yaitu:
1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus
atau jelek.
2. Manusia mampu untuk berefleksi atas
tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta
mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu
pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku
orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Berdasarkan
dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan
behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua
tingkahlaku manusia adalah hasil belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang
lain, begitu pula sebaliknya. Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai
model pembelajarannya.
3. Hakekat
Konseling
Proses konseling merupakan suatu
penataan proses pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah prilakunya
agar dapat memecahkan masalahnya
a. Hakikat konseling menurut Behavioral
adalah proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan
masalah-masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam
mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang
sesuai.
b. Konseling dilakukan dengan
menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk
mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama
konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ;
penyusunan kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan
eveluasi perilaku. Dengan prosedur tersebut konseling/terapi behavior
berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang maladaptif menjadi adaptip.
4. Tujuan
Konseling
Tujuan
konseling behavioral adalah membantu klien untuk mendapatkan tingkah laku
baru. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned),
termasuk tingkah laku maladaptif. Konseling behavioral pada hakikatnya terdiri
atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian
pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya respon-respon yang layak yang
belum dipelajari. Dari tujuan diatas dapat dibagi menjadi beberapa sub tujuan
yang lebih konkrit yaitu:
a. Membantu klien untuk menjadi asertif dan
mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat ke dalam situasi yang
membangkitkan tingkah laku asertif (mempunyai ketegasan dalam bertingkah laku).
b. Membantu
klien menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat
dirinya dari keterlibatan peristiwa-peristiwa sosial.
c. Membantu untuk menyelesaikan konflik batin
yang menghambat klien dari pembuatan pemutusan yang penting bagi hidupnya.
Ada tiga
fungsi tujuan konseling behavioral, yaitu : (1) sebagai refleksi masalah klien
dan dengan demikian sebagai arah bagi proses konseling, (2) sebagai dasar
pemilihan dan penggunaan strategi konseling, dan (3) sebagai kerangka untuk
menilai konseling.
Secara
operasional tujuan konseling behavioral dirumuskan dalam bentuk dan
istilah-istilah yang khusus, melalui : (1) definisi masalah, (2) sejarah
perkembangan klien, untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan
dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan
area masalahnya, (3) merumuskan tujuan-tujuan khusus, dan (4) menentukan metode
untuk mencapai perubahan tingkah laku.
5.
Karakteristik
Konseling Behavioral
Karakter
konseling behavioral adalah sebagai berikut:
a.
Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan
karena itu dapat dirubah.
b.
Perubahan-perubahan khusus terhadap
lingkungan individual dapat membantu dalam merubah
perilaku-perilaku yang relevan; prosedur-prosedur
konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang
relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
c.
Prinsip-prinsip belajar sosial,
seperti misalnya “reinforcement” dan “social modeling”,
dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur
konseling.
d.
Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari
perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari
layanan konseling yang diberikan.
e.
Prosedur-prosedur konseling tidak
statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya, tetapi
dapat secara khusus didisain untuk membantu
konseli dalam memecahkan masalah khusus.
6. Peran dan Fungsi Konselor
Menurut
Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkahlaku harus memainkan peran
aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia,
para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah laku
yang baru dan adjustive.
a.
Mengaplikasikan prinsip dari
mempelajari manusia untuk memberi fasilitas pada
penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku
yang lebih adaptif.
b.
Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli,
dengan membebaskan seseorang dari perilaku yang
mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi
tentang hak individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki
sepanjang sasaran itu sesuai dengan kebaikan masyarakat secara
umum.
Perubahan dalam perilaku itu harus di usahakan melalui suatu
proses belajar atau belajar kembali, yang berlangsung selama proses konseling. Oleh
karena itu ,proses konseling di pandang sebagai suatu proses pendidikan yang berpusat
pada usaha membantu dan kesediaan di bantu untuk belajar perilaku baru dan dengan
demikian mengatasi berbagai macam permasalah. Perhatian di fokuskan pada perilaku-perilaku
tertentu yang dapat di amati ,yang selam aproses konseling melalui berbagai prosedur
dan aneka teknik tertentu akhirnya menghasilkan perubahan yang nyata, yang juga
dapat di saksikan dengan jelas. Semua usaha untuk mendatangkan perubahan dalam tingkah
laku di dasar kanpadateori belajar yang di kenal dengan nama Behaviorism dan sudah
di kembangkan sebelum lahirnya aliran Behavioral dalam konseling. Konselor
behavioral memiliki peran yang sangat penting dalam membantu konseling. Wol pemengemukakan
peran yang harus di lakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami
konseli dan apa yang di kemukakantan pamenilai atau mengkritiknya. Dalam hal menciptakan
iklim yang baik adalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modifikasi perilaku.
Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu konseli melakukan teknik-teknik
modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang hendak dicapai
7. Hubungan
Konselor dengan Klien
Dalam
kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini
bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan
masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang
baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian
pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.
Konseli harus mampu berpartisipasi
dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia
bekerjasama dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung
konseling maupun diluar konseling.
Dalam hubungan konselor dengan
konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
a.
Konselor memahami dan menerima klien.
- Antara konselor dan konseli saling bekerjasama.
- Konselor memberikan bantuan dalam arah yang di inginkan klien.
Inti dari hubungan adalah rasa
saling menghormati , yang mencakup kepercayaan akan potensi klien untuk secara
otentik menangani kesulitan mereka.
8. Tahap Konseling
Proses
konseling dibingkai dalam bentuk kerangka kerja dalam membantu konseli untuk
mengubah tingkah lakunya. Proses konseling adalah proses belajar, konselor
membantu terjadinya proses belajar tersebut, dengan cara mendorong konseli
untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu.
Konseling behavioral memiliki empat tahap dalam proses konseling, yaitu :
1. Melakukan Assesment :
Langkah awal kerja konselor adalah melakukan asesmen.
Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan
dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
2. Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Dalam hal
ini Konselor dan konseli bersama-sama mendiskusikan tujuan yang telah
ditetapkan konseli, yang terkait dengan :
a.
apakah merupakan tujuan yang benar-benar
diinginkan klien.
b. apakah
tujuan itu realistik
c. bagaimana
kemungkinan manfaatnya
d. bagaimana
kemungkinan kerugiannya.
3. Implementasi Teknik (Technique
Implementation)
Setelah
tujuan konseling dirumuskan, konselor dan konseli menentukan strategi belajar
yang terbaik untuk membantu konseli mencpai perubahan tingkah laku yang
diinginkan. Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling
sesuai dengan masalah yang dialami konseli. Dalam implimentasi teknik konselor
membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan intervensi.
4. Evaluasi dan Pengakhiran
Evaluasi
konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku
konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan
efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan.
Dalam hal ini konselor dan konseli
mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya
intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang diharapkan menetap.
9. Teknik Konseling
1.
Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien
yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak
atau benar. Latihan ini terutama berguna diantaranya un tuk membantu individu
yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan
tidak, mengungkap afeksi dan respon positif lainnya. Cara yang digunakan adalah
dengan permainan peran dengan bimbingan konsealor dan diskusi-diskusi kelompok.
2.
Desensitisasi Sistematis
Desensititasi sistematis merupakan
teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien
dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks
3. Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk
menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan
kebalikan stimulus tersebut.
4. Pembentukan Tingkah
laku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien,
dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor
menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model
audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis
tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh
memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai
ganjaran sosial.
10. Kelebihan dan
keterbatasan
Ø
Kelebihan pendekatan behavioral :
1. Telah mengembangkan konseling
sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan IPTEK kepada proses
konseling.
2. Pengembangan prilaku yang spesifik
sebagai hasil konseling yang dapat diukur.
3. Memberikan ilustrasi bagaimana
keterbatasan lingkungan.
4. Penekanan
bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan prilaku
yang ada dimasa lalu.
Ø Keterbatasan pendekatan behavioral :
1.
Bersifat
dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan mengabaikan
hubungan pribadi
2.
Lebih
konsentrasi pada teknik
3.
Pemilihan
tujuan sering ditentukan oleh konselor
4.
Meskipun
konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan yang spesifik
tapi masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena itu tidak
menuntut strategi konseling.
5.
Konstruk
belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup komprehensif
untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai hipotesis harus
dites.
6.
Perubahan
klien hanya berupa gejala yan dapat berpindah kepada bentuk perilaku lain.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konseling Behavioral adalah
salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini.
Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi
dari aliran psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya
pada perilaku yang tampak. Hal yang paling mendasar
dalam konseling behavioral adalah penggunaan
konsep-konsep behaviorisme dalam pelaksanaan konseling,
.
Tujuan konseling behavioral yaitu membantu menciptakan
kondisi dan lingkungan baru agar klien mampu belajar merubah perilakunya dalam
rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Klien menghadapi masalah karena salah
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau masalah itu timbul karena
terjadi penyimpangan perilaku dari apa yang seharusnya ia lakukan. Maka melalui
konseling behavioral ini klien diharapkan mampu untuk meningkatkan ketrampilan
sosial, memperbaiki tingkah lakunya yang menyimpang dan mengembangkan
keterampilan self manajemen dan self control.
B. Saran
Bentuk terapi konseling yang dibahas
dalam makalah
singkat ini dapat digunakan untuk terapi klien yang mengalami permasalahan dalam bertingkah laku. Dalam penerapan model konseling
ini hendaknya konselor memiliki keahlian dan kerampilan yang benar-benar sesuai
dan profesional pada bidangnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Corey, Gerald. (2007). Teori
dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Refika Aditama. Bandung.
Jones, Richard Nelson. (2011). Teori
dan Praktik Konseling dan Terapi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Latipun. 2008. Psikologi
Konseling. Malang: UMM Press.
Winkel, W.S. & M. M. Sri
Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.
Yogyakarta: Media Abadi.
Hendrarno, E. Supriyo & Sugiyo.
2003. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Pres.
makalah ini sangat membantu tugas saya
AntwoordVee uitterima kasih bu mutia
bagus dan bermanfaat buat referensi. :)
AntwoordVee uit